Istilah “El Nino Godzilla” mulai ramai dibahas sejak awal 2026 karena diperkirakan memiliki intensitas jauh lebih kuat dari biasanya. Istilah ini juga digunakan oleh BMKG dan BRIN untuk menandai skala fenomena yang tergolong ekstrem. Artinya, yang dihadapi bukan sekadar kemarau biasa, tetapi kondisi dengan potensi dampak yang jauh lebih besar, terutama bagi Indonesia. 

Fenomena ini diprediksi terjadi pada April hingga Oktober 2026, dipicu oleh kenaikan suhu permukaan laut di Samudra Pasifik yang signifikan. Dampaknya berpotensi memicu kekeringan parah hingga meningkatkan risiko krisis pangan, terutama jika intensitasnya menguat pada pertengahan tahun.

Secara umum, El Nino adalah fenomena pemanasan suhu permukaan laut di Samudra Pasifik yang memicu perubahan pola cuaca. Awan pembawa hujan yang biasanya menuju wilayah Indonesia justru bergeser ke tengah lautan. Akibatnya, curah hujan menurun dan musim kemarau bisa berlangsung lebih panjang. Jika kondisi ini terjadi dalam waktu lama, sektor pertanian menjadi salah satu yang paling terdampak.

Lalu, bagaimana dengan prediksinya? BMKG menyebutkan peluang terjadinya El Nino berada di kisaran 50–60%. Artinya, fenomena ini masih berupa potensi, belum bisa dipastikan sepenuhnya. Meski begitu, angka tersebut sudah cukup menjadi sinyal bagi kita untuk mulai waspada dan menyiapkan langkah antisipasi sejak dini.

Dalam kondisi kemarau panjang akibat El Nino, tantangan utama di lapangan bukan hanya soal air, tetapi juga bagaimana tanaman tetap mendapatkan nutrisi secara optimal. Di sinilah pemupukan tidak bisa lagi dilakukan secara asal. Butuh strategi yang lebih tepat dan terukur agar tanaman tetap mampu bertahan sekaligus berproduksi. 

Hal ini penting karena unsur hara seperti nitrogen mudah hilang akibat menguap saat suhu tinggi, sehingga pemupukan bisa jadi kurang efektif. Untuk itu, pupuk dengan teknologi pintar seperti Palmo dari Saraswanti membantu menekan kehilangan tersebut, sehingga nutrisi tetap tersedia lebih lama dan dapat dimanfaatkan optimal oleh tanaman, bahkan di tengah cuaca ekstrem. 

Cuaca memang tidak bisa dikendalikan. Namun, kesiapan nutrisi tanaman masih bisa diupayakan.